Warga Kasaka Memanas! Tolak PJ Kades dan Tuntut Keadilan bagi Kades Definitif
KABAWO, MUNA – Suasana di Desa Kasaka, Kecamatan Kabawo, seketika riuh pada Jumat (20/2/2026). Ratusan warga turun ke jalan melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran untuk menolak kehadiran Penjabat (PJ) Kepala Desa yang baru saja ditunjuk oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Muna.
Aksi ini bukan sekadar protes administratif, melainkan bentuk solidaritas warga terhadap Kepala Desa (Kades) definitif mereka yang saat ini tengah terseret persoalan hukum.
"Kades Kami Masih Ada!"
Dalam orasi yang menggelegar di tengah cuaca panas, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi 'Roy Lapunu' menegaskan bahwa, penunjukan PJ Kades Umiati AMG dianggap prematur dan tidak menghargai keberadaan pemimpin pilihan rakyat.
"Desa Kasaka tidak pantas ada PJ Kepala Desa. Kepala Desa definitif kami masih hidup! Jangan seolah-olah kursi kepemimpinan ini kosong begitu saja," teriak Korlap di hadapan massa aksi.
Warga menilai, ada ketidakadilan yang menimpa Kades definitif mereka. Menurut massa, sang Kades justru menjadi korban dari niat baiknya sendiri. Ia terseret hukum saat menjalankan fungsi mediasi dalam penyelesaian sengketa antar-warga terkait kasus penjeratan sapi.
Roy Lapunu mengurai, Kades bertindak sebagai penengah untuk menjaga kondusivitas Desa yaitu menyelesaikan permasalahan pemilik Sapi dan pemasangan jerat yang berujung pada saling lapor di Kepolisian. Disamping itu, Jaksa hanya menuntut 4 bulan penjara. Dengan artian, menunjukan bahwa kesalahan Kades Kasaka La Sanudi tidaklah fatal.
Kami menolak adanya PJ sebab hingga saat ini, belum ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (inkrah). Secara hukum, sang Kades belum dinyatakan bersalah, tegas Roy La Punu.
Untuk itu warga meminta dan mendesak agar Pemerintah Daerah Kabupaten Muna segera mengevaluasi keputusan tersebut. Meminta Bupati Muna untuk menarik kembali PJ Kepala Desa Kasaka dan memulihkan nama baik serta jabatan Kades definitif hingga ada keputusan pengadilan yang bersifat final.
Bila tuntutan tidak di indahkan, maka warga tidak segan-segan akan menurunkan masa aksi dengan jumlah yang lebih banyak lagi, ujar salah seorang demonstran.
Warga akan terus mengawal kasus ini hingga aspirasi mereka didengar. Bagi mereka, kepemimpinan di Desa Kasaka bukan hanya soal administratif, tapi soal marwah dan keadilan bagi pemimpin yang dianggap telah berkorban demi kedamaian warga. (HL)


0 Komentar