Ticker

6/recent/ticker-posts

Bedah Tantangan Zaman, Kader GMNI Sultra "Rasmin Jaya" Rilis Karya Literasi Terbaru

Rasmin Jaya Kader GMNI Sultra Terbitkan Karya Berjudul "Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi"

‎Kendari - Mahasiswa asal Muna Barat yang sementara menempuh pendidikan di Pasca Sarjana UHO yang juga kader GMNI Sulawesi Tenggara terbitkan buku dengan judul "Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi".

‎Proses penulisan karya ini tidak mudah, butuh nutrisi bacaan banyak, melihat proses fenomena dan dinamika yang tajam, diperlukan konsistensi, keseriusan, kesabaran untuk merangkai kata dan bongkar pasang penyesuaian sampai menemukan bentuk yang utuh.

‎Ia menyadari proses literasi dan pembacaan fenomena sosial berperan sebagai nutrisi bagi otak. Seperti halnya tubuh yang membutuhkan gizi untuk tetap sehat, otak membutuhkan asupan pengetahuan agar tetap tajam.

‎Mengurangi aktivitas literasi sama saja dengan mengurangi gizi otak, yang pada akhirnya berisiko menimbulkan “kelumpuhan” berupa ketidakmampuan dalam memahami.

‎Dialah, Rasmin Jaya sosok yang yang selalu pro aktif pada berbagai fenomena sosial, organisasi dan kebijakan pemerintah. Ia dengan berani menyikap berbagai tabir yang kurang terkuak di publik.

‎Dengan jiwa muda, idealisme dan semangat aktivis ia banyak bergelut dalam proses pergerakan besar yang ada di Sulawesi Tenggara khususnya Kota Kendari, mengawal kasus dan mengadvokasi mahasiswa, masyarakat yang selama ini tidak mendapatkan haknya.

‎Dengan komitmen, cinta, dan harapan, serta semangat berkarya, mencipta, dan memimpin, buku yang di tulis oleh penulisnya tak seperti  bunyi halilintar, tetapi seperti rintik rinai hujan yang membawa kesejukan dan kehidupan untuk alam semesta serta seperti cahaya yang menemani dan mengarungi di tengah kegelapan.

‎Ialah Rasmin Jaya, salah satu alumni Sosiologi, Fisip UHO yang sekarang ini sedang menempuh pendidikan di Pasca Sarjana UHO. Di tengah kesibukan akademik, organisasi dan aksi-aksi pergerakan, ia juga sangat aktif menulis  meluncurkan berbagai wacana artikel di media sosial khususnya publik di Sulawesi Tenggara.

‎Sebagai aktivis pergerakan di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kendari ia tetap mengedepankan rasa tanggung jawab dan fungsinya sebagai pemuda. Komitmen pada ideologi, peranannya di organisasi serta tanggung jawabnya kepada sejarah tetap melekat kepada dirinya, sebab ia pikir itu adalah panggilan moral dan sosial untuk berbuat lebih banyak kepada masyarakat.

‎Ia bercerita, pasca berjuang di atas podium jalanan, bersuara di setiap forum, dan bergerak melalui jalur organisasi maupun akademik, penulis mencoba menghiasi percakapan publik di berbagai platform media. 

‎Kali ini, penulis bergerak dalam Kesunyian, jauh dari hiruk-pikuk sorotan.

‎Di tengah kebisuan alam, penulis mencoba mendobrak kebekuan, melahirkan ata demi kegelisahannya untuk selalu melakukan yang positif, pikirannya menyala nyala, nada bicaranya meledak. Dibawah lentera merah, lampu menyala sayup sayup. Ia berjuang dengan pena layaknya.

‎Saat yang lain terlelap tidur, ia meracik kata demi kata sehingga menjadi sebuah tulisan, merangkai narasi dengan penuh harap untuk kebijakan hari esok tanpa sorotan, di tengah keheningan dan kebisuan malam ia kembali hadir sebagai catatan pinggir adalah oase dan etalase atas percikan pemikiran dan gagasannya.

‎Tulisannya tak seperti bunyi halilintar tapi semoga mampu menyihir pembaca, menjadi cahaya dalam menuntun perjalanan generasi dengan segala zamannya.

‎*Sosok Yang Sederhana dan Terbuka*

‎Ialah dia sesosok pemuda, Rasmin Jaya. Lahir di pelosok, Desa Maperaha, Muna Barat. Jauh dari hiruk pikuk Kota dan ingar bingarnya tapi semangatnya, mimpinya, cita-cita dan harapannya besar bagaimana merubah wajah daerahnya, melihat masyarakat yang ia perjuangkan selama ini sejahtera dan bisa mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara.

‎Ia merintis di atas jalan terjal perjuangan, di tengah keterbatasan tak membuatnya ia surut, pesimis ataupun menyerah. Selama ini, di atas podium ia cukup banyak berteriak lantang, menuntut ketidakadilan, bersuara di forum-forum besar, menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas amanah rakyat, dan menghiasi percakapan publik dengan untaian-untaian kata dari setiap narasi yang ia bangun, hadir dari denyut nadi rakyat. 

‎Tapi, kali ini ia menciptakan sebuah karya yang lebih panjang dari pada tarikan nafas. Mendobrak kebekuan generasi, memantik semangat nilai-nilai perjuangan ia melahirkan suatu karya berjudul Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi.

‎Ia menulis pokok-pokok pikiran , problematika yang itu juga sangat bersentuhan dengan aktivitas kesehariannya. Dalam akademik, dinamika organisasi serta berbagai sirkulasi wacana yang terpotret atas kebijakan pemerintah.

‎Ia merekam keresahan, harapan, keyakinan dan proses jalan panjang perjuangan serta pengorbanan. Sehingga menulis buku adalah cara paling sunyi untuk menjadi abadi. 

‎Setiap denyut nadi tulisan yang hidup, setiap narasi yang terbentang itu bukan hanya sekadar tulisan tetapi bibit sebuah karya, tapi di sisi lain ia membutuhkan keberanian, ada proses panjang, ada kesiapan untuk di baca, di lihat dan di nilai. 

‎*Proses Kreatif Penulis*

‎Di era distrupsi, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat, mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, terutama budaya literasi menulis. Kemajuan ini menghadirkan tantangan baru bagi mahasiswa. 

‎Jika tidak diimbangi dengan proses menulis dan literasi yang baik, teknologi justru dapat membawa dampak negatif, seperti penyebaran hoaks, bullying, dan isu sara yang mengemuka di ruang publik. Perkembangan teknologi ini perlu filterisasi dengan bijak agar dampak negatifnya dapat diminimalisir.

‎‎Namun di sisi lain, kemajuan ini menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas percakapan publik melalui pengetahuan dan informasi. Budaya menulis akan terus berkembang seiring upaya kecil yang dilakukan secara konsisten dan terus tekun untuk membentuk karakter bangsa yang kuat dan beradab.

‎Dari tradisi literasi membaca, diskusi, menulis dan aksi menjadikan kita ‎semakin produktif dan tetap terus berkembang. Kalau kita ingin mengetahui dunia maka membacalah dan kalau ingin  terkenal maka menulislah. 

‎Pekerjaan menulis bukan hanya sekedar urusan keterkenalan atau popularitas, jauh dari itu menulis sejatinya mengartikulasikan ide, pikiran dan gagasan yang bisa di baca bahkan bisa mempengaruhi public. Menulis itu bisa otodidak.

‎Ia proses mencoba, syaratnya perlu membaca dan punya gagasan. Penulis itu mereka yang membaca, bersentuhan langsung dengan dinamika, fenomena dan terpicu untuk menuliskannya.

‎Menulis di media massa bisa dilakukan siapa saja, dan menulis itu 99 persen gagasan dan 1 persen teknis. Proses menulis bisa menghilangkan stres dan kepengapan atas banyaknya pikiran yang tertahan di otak. Maka perlu untuk di tuliskannya.

‎Kebiasaan kita menulis, membuat kita terus belajar dan aktual. Penulis itu ‎manusia pembelajar yang selalu penasaran dan mengetahui berbagai hal serta harus menggali ide-ide dan menuliskannya. Bacaan dan fenomena apapun, adalah instrumen pembelajaran. Penulis perlu gagasan, tanpa itu tidak ada yang di tulis. 

‎‎Tanpa sikap yang terbuka dan menyerap banyak hal, tidak akan ada gagasan yang istimewa. Penulis seyogyanya inklusif. Bagi penulis, publikasi sangat perlu karena bisa mendistribusikan ide dan gagasan di publik serta bisa mendapatkan respon balik dari pembaca.

‎Media massa adalah panggungnya. Proses menulis dan pembacaan fenomena sosial berperan sebagai nutrisi bagi otak. Seperti halnya tubuh yang membutuhkan gizi untuk tetap sehat, otak butuh asupan pengetahuan agar tetap tajam. Di tengah kondisi bangsa yang sarat tantangan, budaya menulis sangatlah enting. Sebagai mahasiswa, kita memiliki tanggung jawab untuk terus belajar.

‎‎*Buku ini berjudul, Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi*

‎Buku ini lahir atas keresahan pikiran penulis dengan melihat berbagai dinamika pergolakan wacana di semua sektor juga sekaligus menjawab kebuntuan saluran demokrasi dalam menyampaikan pikiran, gagasan, ide serta pandangan di ruang publik.

‎Buku tersebut lahir dari pergumulan atas aktivitas keseharian dan menyentuh berbagai pokok persoalan fundamental dan substansial. Tulisan apa adanya, tidak terlalu ilmiah sehingga berbagai lapisan masyarakat bisa membaca, membuka mata, hati dan pikiran tentang apa yang sedang di alami daerah dan bangsa ini. Bukan hanya tentang politik, pendidikan, sosial, mahasiswa, demokrasi, pemilu, tetapi juga berbagai wacana lain yang di tuangkan dalam satu tarikan dalam nafas buku ini. 

‎‎Pikiran, ide dan gagasan akan terus lahir dari segala zaman dan generasinya, tentang harapan dan prospek ke depan agar bisa menjadi arah pembangunan dan kesejahteraan masyarakat serta bisa di baca langsung oleh para pemangku kepentingan dalam memutuskan kebijakan.

‎*Konsistensi Menulis*

‎Buku "Transformasi dan Wacana di Era Disrupsi” ini dapat penulis rampungkan di sela kesibukan mengurus organisasi, pengawalan isu-isu kebijakan pemerintah dan studi sebagai mahasiswa. 

‎Sebab ia memandang di tengah kondisi bangsa yang sarat tantangan, budaya ‎menulis menjadi sangat krusial. Sebagai mahasiswa, kita emiliki tanggung jawab untuk terus belajar. 

‎Buku adalah laboratorium dan jendela dunia yang telah membuktikan diri sebagai pilar kemajuan peradaban. Mahasiswa perlu memupuk budaya membaca dan menulis yang kuat dengan mengedepankan pikiran kritis, progresif, dan kreatif. Jika mahasiswa mengalami degradasi budaya menulis, masa depan bangsa akan terancam, sebab mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan.

‎Bagi seorang penulis, sangat sukar menakar esensi irinya. Penulis tidak akan benar-benar "mati" meski raga ‎telah dikuburkan, karena imajinasi pembaca akan selalu menghidupkannya.

Penulis, yang sebelumnya terlibat aktif dalam pergerakan mahasiswa, pers mahasiswa, advokasi kasus, hingga memimpin berbagai lembaga, telah menghasilkan berbagai artikel di media massa lokal maupun nasional. ‎Melalui buku ini, penulis mencoba menyingkap tabir fenomena osial-politik yang kian kabur dari esensinya.

‎*Sepenggal Pesan Dari Penulis*

‎Bahwa balas dendam terbaik adalah bagaimana kita terus memperbaiki diri dari hari kehari, dari waktu kewaktu, bukan hanya karena suramnya masa lalu tetapi bagaimana kita lebih memantaskan diri untuk orang yang kita cintai dan untuk rakyat yang selalu kita perjuangkan dalam setiap diskusi, di temani kopi dan rokok dalam larutnya malam di tengah keterbatasan. 

‎Karena aku dan kita semua yang sempat membaca sepenggal pesan tersirat dan tersurat ini, kita tidak boleh seperti ini terus. Generasi kita harus bangkit, maju dan berpikir melampaui generasi dan zamannya. 

‎Mimpi dan cita-cita yang harus terus di rawat dan di perjuangkan. Tidak sepatutnya kita apatis dan merasa bodoh. Ini tentang regenerasi, kepemimpinan, dan masa depan sebab ada tugas ideologi, organisasi dan sejarah yang kita pikul. 

‎‎Kita sedang merintis di atas jalan terjal perjuangan, untuk terus mengumpulkan secercah percikan api agar menjadi kekuatan dan Cahaya yang selalu mengiringi perjalanan kita. 

‎Tentang harapan yang kita perjuangkan mungkin tak selalu apa yang kita harapkan tapi semoga itu menjadi Pelajaran dan pengalaman dari hikmah itu sendiri. Kenyataanya tak ada orang yang berkembang dan maju tanpa melalui proses, mereka membentuk dirinya dengan melalui pengalaman, kesulitan dan pilihan hidup yang pahit.

‎Semakin keras prosesnya maka akan semakin maksimal hasilnya. Sebuah permata tidak akan bisa di poles tanpa gesekan. Karena kunci keberhasilan adalah ketekunan, komitmen, ikhtiar, berusaha dan berdoa. Karena setiap capaian besar butuh waktu lama dan proses yang cukup, mimpi tidak di beli tetapi harus di perjuangkan, di usahakan mengorbankan segala hal dengan air mata.

‎‎Terima kasih kalian semua sudah kuat hingga sejauh ini, kamu hebat menjadi dirimu sendiri. Hari, bulan dan tahun yang akan datang ada cobaan kita cobain, ada nikmat kita nikmati. 

*Profil Penulis*

Rasmin Jaya lahir pada 9 Oktober 1998 di Desa Maperaha, Muna Barat

Sulawesi Tenggara. Dalam perjalanan Pendidikan SD ia habiskan waktunya untuk

sekolah di SD N 3 Sawerigadi Muna Barat, SMP N 2 Kusambi, dan SMA N 2 Kusambi. 

Selain sekolah ia juga salah satu anak yang menjadi penopang hidup keluarga, biasanya sebelum ke sekolah setiap pagi ia harus menyusuri jalan yang masih berembun untuk berjualan roti dan setelah pulang sekolah di sore harinya juga ia harus tetap melakukan aktivitas yang sama yakni membantu orang tua berjualan roti. Ia lakukan itu sampai sekolah di SMA kelas 2. Baginya, ada kebahagiaan dan kesenangan tersendiri pada saat melakukan aktivitas tersebut. 

Apa lagi ia juga tak bisa tinggal diam Ketika orang tuanya setiap malam membuat roti, ia juga turut mengambil bagian dan sampai saat ini pengalaman membuat roti sampai terbawa bawa bahkan pada saat kuliah ia tetap membuat dan menjual roti meskipun secara online. 

Dalam proses perjalanan bermahasiswa ia adalah aktivis Gerakan dan memimpin beberapa organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan yang berperan aktif dalam menyoroti kemajuan sosial dan pembangunan di Sulawesi Tenggara, khususnya di Muna Barat.

Ia menempuh pendidikan di Universitas Haluoleo,

Sulawesi Tenggara, dan pernah menjabat sebagai Demisioner Ketua Kesatuan Pemuda Mahasiswa Maperaha Muna Barat serta pengurus BEM UHO periode 2019-2020. Menjadi Ketua DPK GMNI FISIP UHO periode 2020-2021, dalam

proses bermahasiswa ia aktif memperjuangkan aspirasi mahasiswa terkait biaya pendidikan dan kebijakan kampus serta di organisasi ekternal ia di amanahkan memimpin Ketua DPC GMNI Kota Kendari periode 2023-2025.

Bagi semua mahasiswa, aktivis, pemangku kepentingan dan semua elemen masyarakat yang berminat untuk order bukunya bisa menghubungi nomor : 085299386610 (Rasmin Jaya).

Posting Komentar

0 Komentar