MUNA - Sejarah peradaban manusia modern resmi bergeser ke Nusantara. Dalam pembukaan Festival Liangkobori ke-4 di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Sabtu (11/7/2026), Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa temuan lukisan cadas nonfiguratif di Liang Metanduno, Muna, adalah yang tertua di dunia dengan usia mencengangkan: 67.800 tahun.
"Ini adalah rekor baru dunia. Mengalahkan temuan di Maros Pangkep (51.200 tahun), bahkan jauh lebih tua dari lukisan purba yang ada di Spanyol hingga Afrika. Di sini, 67.800 tahun lalu, peradaban itu nyata dan hidup," ujar Fadli Zon di hadapan para pejabat di Daerah, pemangku adat, peneliti, dan masyarakat Muna.
![]() |
| Ket: Fadli Zon bersama rombongan tiba dipelabuhan Nusantara Raha (Muna) |
Fadli Zon mengungkapkan, penemuan ini menggunakan teknologi mutakhir Laser Ablation U-series, riset lintas perguruan tinggi dalam dan luar negeri berhasil membuktikan eksistensi 2.700 generasi manusia di Muna.
Penemuan berskala global ini dinilai Fadli Zon mampu meruntuhkan teori-teori sejarah lama yang cenderung berkiblat pada kolonialisme Barat.
"Selama ini ilmu pengetahuan dipengaruhi kolonialisme, kita selalu dianggap lebih muda dan disebut 'Timur Jauh'. Jangan-jangan kita adalah pusatnya, dan merekalah yang ada di 'Barat Jauh'. Kita harus berani menantang teori lama. Migrasi manusia tidak hanya satu arah (Out of Africa), tapi bisa jadi multi-migration, termasuk Out of Sulawesi atau Out of Muna," tegasnya memukau hadirin.
Diketahui, lukisan purba berukuran 14 cm × 10 cm di tempat tersebut memuat ekspresi budaya awal manusia, mulai dari gambar binatang, aktivitas berburu, perahu, hingga layang-layang tradisional. Tak mau temuan ini hanya menjadi arsip, Kementerian Kebudayaan langsung tancap gas menyiapkan langkah strategis untuk memuliakan situs bersejarah ini diantaranya:
- Digitalisasi Dokumen: Menginstruksikan Dirjen Kebudayaan untuk memotret seluruh ornamen gua dengan kualitas tertinggi demi pembuatan buku eksklusif.
- Pusat Informasi & Museum: Merintis pembangunan Pusat Informasi Lukisan Purba dan Museum berskala luas di Sulawesi Tenggara.
- Festival Skala Internasional: Berencana memperluas Festival Liangkobori berikutnya dengan mengundang para duta besar negara sahabat dan komunitas peneliti dunia.
Di akhir sambutannya, Menteri Fadli Zon mengingatkan tantangan nyata di depan mata, yakni perubahan iklim (climate change) yang rentan merusak pigmen lukisan purba. Ini yang mesti diperhatikan dan dijaga, katanya.
Ia pun menutup dengan mengutip Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 tentang mandat negara dalam memajukan kebudayaan.
"Keberadaan Gua Liangkobori dan Liang Metanduno ini senafas dengan konstitusi kita. Ini adalah bukti kepada dunia bahwa Indonesia bukan sekedar penonton sejarah, melainkan salah satu rahim tertua dari peradaban manusia," pungkasnya. (HL)


0 Komentar