Ticker

6/recent/ticker-posts

Institusi TNI Kembali Tercoreng: Diduga Anggota Satuan "Oknum" Mengamuk Dirumah Kepala Desa Lahorio

Oknum TNI Mengamuk dengan Keris, Keluarga Kades Terperangkap dalam Teror Berantai

MUNA, SULAWESI TENGGARA-Keheningan malam di Desa Lahorio, Kecamatan Kabawo, mendadak pecah oleh deru ancaman yang menggidikkan bulu kuduk. Minggu malam, 12 April 2026, menjadi saksi bisu betapa rapuhnya nyawa manusia ketika amarah buta bersatu dengan tajamnya sebilah keris. Kediaman Kepala Desa Lahorio, Yusran, berubah dari tempat bernaung yang hangat menjadi arena horor yang mencekam.

Seorang pria yang seharusnya menjadi perisai negara, kini justru menjadi sumber petaka. La Ali, seorang anggota TNI berpangkat Koptu dari Kesatuan 751 Papua, atau yang di kampungnya dikenal dengan nama Laode Popy, diduga menjadi dalang di balik teror yang terjadi tiga kali berturut-turut tanpa ampun.

Tanpa ada angin maupun hujan, tanpa ada sengketa yang jelas, Koptu La Ali datang menyerbu. Dalam rekaman video yang menyayat hati, terlihat jelas bagaimana ia mengamuk membabi buta. Sebilah keris yang berkilat di bawah lampu rumah seolah siap memutus urat nadi siapa saja yang menghalangi jalannya. Suara barang-barang pecah beradu dengan jerit histeris keluarga yang hanya bisa meringkuk ketakutan, memohon belas kasih di balik pintu yang tak lagi terasa kokoh.

Kejadian Minggu malam itu bukanlah sebuah insiden tunggal, melainkan babak ketiga dari sebuah drama kekerasan yang tak kunjung usai.

Aksi ini bermula ketika pelaku secara brutal menganiaya Kepala Desa hingga babak belur. Kala itu, pelaku hanya melontarkan alasan klise: "Khilaf karena dihasut." Sebuah alasan yang terasa sangat tawar dibandingkan dengan lebam dan luka di sekujur tubuh korban.

Belum sempat luka fisik itu sembuh, pelaku kembali datang untuk kedua kalinya. Kali ini, ia merusak fasilitas rumah dan melontarkan ancaman yang membuat nyawa penghuni rumah serasa di ujung tanduk. Dan puncaknya, pada aksi ketiga ini, ia datang membawa senjata tajam, menunjukkan bahwa ia tidak lagi main-main dengan ancamannya.

Ada sebuah kejanggalan yang menyelimuti motif pelaku. Sebelum berangkat bertugas ke tanah Papua, ia sempat mengaku telah mengganti nomor ponselnya agar tidak lagi bisa dihubungi oleh "penghasut" misterius yang selalu meracuni pikirannya. Namun, sekembalinya ia dari medan tugas, "bisikan" itu seolah hidup kembali, jauh lebih kuat dan lebih mematikan. Saat ditanya apa alasannya kembali menyerang, jawabannya selalu berubah-ubah, tak menentu, seolah ia sedang bertarung dengan bayangannya sendiri di dalam kepala.

Hingga detik ini, bayang-bayang Koptu La Ali masih menghantui setiap sudut Desa Lahorio. Keluarga Kepala Desa kini hidup dalam trauma yang sangat berat. Setiap derap langkah di depan rumah membuat jantung mereka berdegup kencang, takut jika sang "penjemput maut" kembali datang membawa senjata.

Meskipun laporan resmi belum sepenuhnya bergulir karena tekanan batin yang luar biasa, jeritan minta tolong ini kini menggema ke publik. Rakyat Desa Lahorio kini hanya bisa berharap pada ketegasan institusi TNI, khususnya Denpom, untuk menjemput paksa anggotanya yang telah menyimpang dari sumpah prajurit. Jangan sampai "keris" yang seharusnya melindungi rakyat, justru menjadi senjata yang merenggut nyawa pemimpin desa mereka sendiri.

"Kami hanya ingin tidur dengan tenang tanpa takut besok pagi tak lagi bisa melihat matahari," lirih salah satu anggota keluarga yang masih menggigil mengenang kejadian malam itu. (HL)

Sumber: Keluarga Kades

Posting Komentar

0 Komentar