KENDARI – Potret buram pendidikan Indonesia kembali memicu keprihatinan mendalam. Tragedi memilukan di NTT, di mana seorang anak mengakhiri hidup karena tak mampu membeli alat tulis, menjadi alarm keras bagi pemerintah. Namun, fenomena ini nyatanya tidak jauh dari pelupuk mata masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra).
Ketua DPC GMNI Kendari periode 2023-2025, Rasmin Jaya, menyoroti kontradiksi tajam antara alokasi anggaran pendidikan APBN yang dipatok 20% dengan realitas di lapangan. Di Kendari, pemandangan anak usia sekolah yang harus bertaruh nyawa di lampu merah demi menyambung hidup menjadi bukti nyata adanya "lubang" besar dalam sistem perlindungan dan pendidikan kita.
Anak Jalanan dan Harapan yang Tergadai
Rasmin mengungkapkan bahwa di balik wajah-wajah lusuh yang menjajakan jualan di bawah terik matahari dan ancaman bahaya jalanan, tersimpan cita-cita besar.
"Mereka berdiri di bahu jalan memanfaatkan waktu libur, bahkan di jam sekolah, demi membantu ekonomi keluarga. Di jiwa mereka ada harapan jadi orang berguna, tapi apakah pemerintah hadir menjemput harapan itu?" cetusnya (12/4/2026)
Ia menegaskan, anak-anak yang berjuang di jalanan ini seharusnya menjadi prioritas utama penerima bantuan pendidikan atau beasiswa, agar mereka bisa kembali ke bangku sekolah tanpa beban finansial.
Sorotan Beasiswa Sultra: Transparansi atau Politisasi?
Menoleh ke kebijakan lokal, Rasmin mengkritisi program beasiswa Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Meski dinilai membuka peluang, ia mencatat adanya ketidakjelasan orientasi dan distribusi.
"Jangan sampai distribusi beasiswa dimonopoli pihak tertentu, apalagi dipolitisasi. Kita harus adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam tindakan," tegas Rasmin.
Ia mendesak agar APBD Sultra berani mengalokasikan porsi anggaran yang lebih besar untuk pendidikan, meskipun di tengah kebijakan fiskal yang ketat. Menurutnya, pendidikan bukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun SDM unggul di Bumi Anoa.
Evaluasi Nasional: Pendidikan Bukan Kelinci Percobaan
Tak hanya di tingkat daerah, Rasmin juga melayangkan kritik ke Pemerintah Pusat terkait efisiensi atau pemangkasan anggaran pendidikan. Ia menyayangkan pola pergantian kepemimpinan yang kerap diikuti perubahan sistem secara drastis, yang justru menyisakan kegamangan.
Tiga Poin Utama Harapan GMNI Kendari:
1. Keberlanjutan Sistem: Pendidikan butuh fondasi yang sabar, bukan perubahan tanpa arah setiap ganti pejabat.
2. Optimalisasi Anggaran: Menghentikan pemangkasan anggaran yang krusial bagi masa depan generasi.
3. Pemerataan Akses: Memperbanyak kanal beasiswa bagi siswa/mahasiswa berprestasi namun kurang mampu untuk memutus rantai kemiskinan.
Menanam Nilai, Menuai Masa Depan
Pendidikan, bagi Rasmin, adalah "Kawah Candradimuka" yang membutuhkan konsistensi. Jika SDM Sultra maju, maka ekonomi daerah otomatis akan tertopang.
"Pendidikan sejati bukan tentang seberapa cepat kita berubah, tapi tentang kesabaran membangun fondasi. Kita butuh formulasi yang benar-benar menciptakan SDM handal, agar anak-anak kita tak perlu lagi berdiri di lampu jalan untuk menjemput masa depan mereka," pungkasnya. (HL)

0 Komentar