Ticker

6/recent/ticker-posts

Dituding Melakukan Pungli, Kepala MTsN 4 Muna: Tidak Benar!!

Diterpa Isu Pungli Hingga Gazebo Misterius, Kepala MTsN 4 Muna Angkat Bicara: "Ada Kepentingan Jabatan untuk Menjatuhkan Saya"

MUNA – Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 4 Muna yang terletak di Desa Lamaeo, Kecamatan Kabawo, mendadak jadi sorotan hangat netizen. Sekolah ini diterpa isu tak sedap mulai dari dugaan pungutan liar (pungli) acara perpisahan, tudingan anggaran gazebo yang dinilai tidak transparan, hingga program qurban jelang Idul Adha.

Gerah dengan bola liar yang menggelinding di media sosial, Kepala MTsN 4 Muna, Drs. Hasanuddin, akhirnya angkat bicara dan memberikan klarifikasi menohok pada Senin (18/5/2026).

Kegaduhan ini bermula dari keluhan yang viral di media sosial terkait penarikan dana sebesar Rp 140.000 per siswa bagi pelajar yang baru saja menyelesaikan ujian akhir. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk biaya selebrasi perpisahan sekolah. Angka yang dianggap cukup besar ini memicu protes dari sebagian pihak.

Namun, Hasanuddin meluruskan bahwa pihak sekolah sama sekali tidak melakukan pemaksaan.

"Ini murni kemauan siswa-siswi yang akan perpisahan. Karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit, diinisiasilah patungan itu. Tetapi bila orang tua siswa merasa tidak sependapat, ya ditiadakan saja. Sekolah tidak memaksa," tegas Hasanuddin di hadapan awak media.

Belum reda soal uang perpisahan, netizen kembali menyerang sang Kepala Sekolah terkait pembangunan gazebo di lingkungan madrasah. Hasanuddin dituding menutup-nutupi pengunaan anggaran sekolah.

Menanggapi hal tersebut, ia membantah keras dan menyatakan bahwa seluruh program sekolah selalu melewati mekanisme yang legal dan melibatkan internal sekolah.

"Faktanya, kami senantiasa membicarakan program sekolah melalui rapat bersama dewan guru. Jadi tidak benar itu kalau pelaksanaan anggaran tidak diketahui guru," ujar Hasanuddin.

Ia juga menambahkan bahwa selama masa kepemimpinannya, pengelolaan keuangan sekolah selalu berjalan di atas rel aturan yang berlaku. "Kalau saya menggunakan anggaran tidak sesuai regulasi, maka pasti ada temuan. 

Sementara selama saya menjabat, belum ada kesalahan secara administratif yang merugikan negara atau merugikan sekolah secara khusus. Kami bekerja sesuai dengan juknis," tambahnya.

Di tengah badai tudingan negatif, ada satu program menarik yang digagas Hasanuddin menjelang Hari Raya Idul Adha, yaitu gerakan qurban kelompok bagi seluruh guru di MTsN 4 Muna. Langkah religi ini diinisiasi untuk mempermudah para guru menunaikan ibadah secara kolektif.

Namun entah mengapa, niat baik ini pun tak luput dari gorengan opini di media sosial.

"Saya menyadari bahwa ibadah qurban adalah wajib bagi yang mampu. Kalau tidak dapat membeli sendiri, maka bisa lewat kelompok. Saya rasa ini hal biasa saja," kata Hasanuddin.

"Tapi lagi-lagi, ini sampai muncul perbincangan di sosial media karena ketidakpuasan pihak tertentu. Tetapi, saya juga tidak memaksa. Bagi yang bersedia untuk bayar qurban ya Alhamdulillah, yang tidak bersedia tidak masalah juga."

Melihat polanya yang bertubi-tubi, Hasanuddin menilai ada motif terselubung di balik serangan digital yang mengarah kepada dirinya akhir-akhir ini. Ia menduga ada oknum yang sengaja memanfaatkan situasi demi menggoyang posisinya.

"Saya menduga ada kepentingan jabatan, tapi ini sangat disayangkan karena isu tersebut tidak benar adanya," pungkas Hasanuddin menyayangkan dinamika yang terjadi.

Hingga saat ini, suasana di MTsN 4 Muna terpantau tetap berjalan kondusif, sementara pihak sekolah memilih fokus menyelesaikan agenda akhir tahun ajaran dengan kepala dingin. (HL)

Posting Komentar

0 Komentar