Kades Liangkobori Buka Suara Terkait Polemik Penggunaan Tongkat Komando
MUNA - Kepala Desa Liangkobori, Kabupaten Muna, Farlin, akhirnya angkat bicara untuk mengklarifikasi penggunaan tongkat komando ala kesatuan yang sempat menuai sorotan publik.
Saat dikonfirmasi pada Minggu (12/7/2026), Farlin secara tegas menepis anggapan bahwa tongkat tersebut merupakan simbol perintah institusional layaknya yang dimiliki oleh pimpinan TNI, Polri, maupun Kejaksaan.
Menurutnya, benda yang digenggamnya saat pembukaan Festival Liangkobori itu hanyalah aksesori biasa yang memiliki makna tersendiri bagi dirinya, bukan untuk gagah-gahan atau sekedar tampil berlebihan (over-acting), melainkan diyakini sebagai pembawa keberkahan.
Ket: Menteri Kebudayaan 'Fadli Zon' menyaksikan langsung lukisan tertua di dunia yang ada di Muna (Gua/Liangkobori).
Meskipun penggunaan atribut di luar ketentuan ini dinilai tidak patut karena regulasi pakaian dan atribut kepala desa telah diatur secara limitatif dalam Permendagri Nomor 11 Tahun 2020, Farlin menimpali bahwa hal tersebut tidak menjadi masalah karena merupakan bagian dari identitas budaya.
Ia mengungkapkan bahwa tongkat tersebut adalah warisan leluhur yang sudah sering ia bawa ke mana-mana bahkan jauh sebelum dirinya menjabat sebagai Kepala Desa.
Farlin juga mengakui bahwa ia selalu membawa tongkat tersebut dalam setiap kegiatan masyarakat, baik formal maupun non-formal, karena merasa ada sesuatu yang kurang jika ia tidak membawanya.
"Seperti ada yang kurang kalau saya tidak bawa itu tongkat, kata Farlin menutup uraiannya. (HL)

0 Komentar