Ticker

6/recent/ticker-posts

HIV/AIDS di Sultra, Kelompok Homoseksual Kini Dominasi Kasus

Pergeseran Tren HIV/AIDS di Sultra: Kelompok Homoseksual Kini Dominasi Kasus

KENDARI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melaporkan adanya perubahan signifikan pada pola penyebaran kasus HIV/AIDS di wilayah tersebut. Jika sebelumnya kasus didominasi oleh kelompok perempuan pekerja seks (PPS), data terbaru menunjukkan tren kini bergeser ke kelompok homoseksual.

Kepala Dinas Kesehatan Sultra, Andi Edy Surahmat, mengonfirmasi bahwa fenomena ini menjadi tantangan baru dalam upaya penanggulangan penyakit menular seksual di Bumi Anoa.

Berdasarkan catatan Dinkes Sultra sepanjang periode Januari hingga Maret 2026, ditemukan sebanyak 123 kasus baru HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut, Kota Kendari dan Kota Baubau masih menempati urutan teratas sebagai daerah dengan sebaran kasus tertinggi.

"Dulu didominasi perempuan pekerja seks, tetapi berdasarkan data terbaru justru didominasi oleh homoseksual," ujar Andi Edy Surahmat, Rabu (29/4/2026) dikutip dari Kendari Info.

Andi Edy menjelaskan bahwa motif di balik penyebaran ini berbeda dengan pola lama. Jika pada pekerja seks faktor ekonomi sering menjadi pemicu utama, pada kelompok risiko baru ini faktornya lebih kompleks.

Pihak Dinkes mengkhawatirkan adanya fenomena gunung es, di mana kasus yang terdeteksi hanya sebagian kecil dari jumlah sebenarnya di lapangan karena sifatnya yang tertutup.

Dinkes Sultra mengambil langkah penting terkait hal ini antara lain:

- Pendekatan Sosialisasi: Mengedukasi masyarakat mengenai bahaya penyakit secara medis.

- Pendekatan Keagamaan: Menggandeng unsur religi untuk memberikan penguatan moral dan perilaku sehat.

- Skrining Proaktif: Mencari metode deteksi dini yang lebih efektif menjangkau kelompok berisiko tanpa menciptakan stigma.

Dinkes Sultra kini tengah menginstruksikan tim program di seluruh kabupaten/kota untuk mempercepat deteksi dan penanganan. Fokus utama saat ini adalah memastikan pengidap segera mendapatkan perawatan agar mata rantai penularan dapat diputus. (HL)

Posting Komentar

0 Komentar