KENDARI – Di tengah hiruk-pikuk dinamika politik Sulawesi Tenggara (Sultra) yang kerap diwarnai intrik dan kontroversi, muncul sorotan tajam mengenai pentingnya sosok politisi yang memiliki integritas tinggi dan komitmen nyata dalam pengabdian.
Pemuda asal Sultra, Rasmin Jaya, dalam pandangannya menekankan bahwa politik seharusnya tidak dipandang sebagai ajang perebutan kekuasaan semata, melainkan panggilan nurani untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat secara luas.
Rasmin menyoroti bahwa di tengah badai politik yang terkadang dilematis, seorang politisi sejati harus mampu bersikap dewasa dan profesional. Menurutnya, tantangan terbesar bagi seorang wakil rakyat adalah memilih antara kepentingan pragmatis atau tetap teguh pada pendirian untuk melayani aspirasi rakyat.
"Politisi yang dibutuhkan hari ini adalah mereka yang mampu menjadi role model, yang tidak sekadar bicara, tetapi membuktikan lewat tindakan nyata di lapangan," ujar Rasmin.
Kisah Inspiratif Politisi "Anak Petani"
Salah satu poin menarik yang diangkat adalah kehadiran sosok politisi yang lahir dari latar belakang sederhana seorang anak petani yang kini duduk di kursi legislatif. Keberhasilan tokoh tersebut dinilai menjadi bukti bahwa asal-usul keluarga bukanlah penghalang untuk meraih impian dan mengabdi pada daerah.
Sosok ini dinilai berhasil mematahkan stigma bahwa kursi legislatif hanya milik kalangan tertentu. Lebih jauh, kehadirannya dianggap mampu menjadi bara api inspirasi bagi generasi muda di Sultra yang memiliki cita-cita tinggi namun terhalang keterbatasan ekonomi.
Berita ini juga menyoroti jejak langkah nyata yang dilakukan politisi tersebut, khususnya di sektor pertanian. Rasmin mencatat adanya transformasi signifikan dalam pola kerja petani di wilayah tersebut.
"Dulu petani masih banyak yang menggunakan alat tradisional. Namun, dengan kebijakan dan regulasi yang mendukung, kini mereka mulai menggunakan teknologi modern. Ini adalah langkah konkret yang meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan ekonomi masyarakat," jelasnya.
Menuju "Daulat Rakyat", Bukan "Daulat Partai"
Menutup pandangannya, Rasmin menegaskan bahwa di tengah krisis kepercayaan publik, politisi dituntut untuk lebih memprioritaskan "daulat rakyat" dibandingkan kepentingan partai politik. Partai seharusnya hanyalah kendaraan untuk memperjuangkan aspirasi, bukan tujuan akhir yang membatasi ruang gerak pengabdian.
Ia berharap, pemimpin di Sulawesi Tenggara ke depan adalah sosok yang transformatif dan kolaboratif. Mampu bersinergi dengan pemerintah daerah (Forkopimda) tanpa mengorbankan integritas.
"Politisi harus menang di hati rakyat melalui dedikasi dan rekam jejak. Sebab pada akhirnya, kepercayaan adalah barang mewah yang tidak bisa dibeli, melainkan harus diperjuangkan dengan kejujuran dan kerja keras," pungkasnya. (HL)

0 Komentar