KENDARI - Pelataran Religi eks MTQ Kendari menjadi saksi sejarah saat 1.228 dulang disajikan, menandai momentum penting berdirinya sebuah fondasi persatuan di tanah Sulawesi Tenggara.
Minggu, 19 Juli 2026, bukan sekedar lembaran hari dalam kalender rutin. Hari itu, angin Kendari membawa aroma tradisi yang kental, berpadu dengan kepemimpinan yang merangkul dan visi yang melintas batas suku.
Di bawah langit Bumi Anoa, Silaturahmi Akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) bertransformasi dari sekedar perhelatan komunitas menjadi panggung persatuan lintas etnis.
Kegiatan itu, terhampar 1.228 dulang nampan berhias penutup tradisional yang berhasil memecahkan rekor MURI. Setiap dulang tidak hanya berisi kehangatan hidangan, melainkan simbol rasa hormat dan kerendahan hati.
Berbagai perwakilan kerukunan budaya dari luar Kabupaten Muna berdiri berdampingan. Bahasa, adat, dan identitas yang berbeda melebur dalam harmoni hangat. Ini menjadi kali pertama perhelatan berskala kolosal di Sulawesi Tenggara, dikemas penuh dalam balutan kebudayaan yang inklusif nan megah.
Sebagai Bupati Muna Barat sekaligus Ketua KKMM Sulawesi Tenggara, La Ode Darwin tampil bukan sekedar sebagai pejabat daerah, melainkan penenun keberagaman.
La Ode Darwin jelas membuktikan "Keberagaman di Bumi Anoa bukanlah sekat yang memisahkan, melainkan bentangan warna yang menguatkan."
Langkahnya kian mantap saat dipercaya menahkodai Partai Golkar Sulawesi Tenggara. Kombinasi antara akar budaya yang kuat dan visi politik yang matang mempertegas posisinya sebagai figur pempimpin masa depan yang patut diperhitungkan.
Siapa La Ode Darwin!? Tumbuh sebagai putra dari seorang guru, ia ditempa dalam keterbatasan namun dibekali nilai-nilai luhur moral dan kerja keras. Perjalanannya mengajarkan bahwa garis start yang sederhana bukanlah penghalang untuk mencapai panggung besar.
La Ode Darwin mengajarkan kepada khal layak, bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari seberapa kuat ia berdiri sendiri, melainkan seberapa mampu ia merangkul semua golongan.
Melalui helatan monumental di pelataran eks MTQ Kendari, La Ode Darwin tidak hanya mengukir rekor pada lembaran kertas MURI, melainkan menorehkan jejak persatuan di hati masyarakat Sulawesi Tenggara.


0 Komentar